Fenomena overthinking atau berpikir berlebihan kini semakin sering dialami oleh remaja dan mahasiswa. Tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga penggunaan media sosial menjadi beberapa faktor yang memicu munculnya kondisi tersebut. Tidak sedikit remaja mengaku sulit tidur, merasa cemas berlebihan, hingga kehilangan fokus akibat terlalu banyak memikirkan sesuatu.
Dalam kehidupan sehari-hari, overthinking biasanya muncul ketika seseorang terus memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Pikiran yang berulang-ulang ini membuat seseorang merasa lelah secara mental dan sulit menikmati aktivitas yang sedang dijalani. Banyak remaja merasa khawatir terhadap nilai sekolah, masa depan, hubungan pertemanan, maupun penilaian orang lain terhadap dirinya.
Menurut beberapa konselor pendidikan, overthinking sebenarnya merupakan hal yang wajar apabila terjadi sesekali. Namun, jika berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih. Seseorang yang mengalami overthinking umumnya menunjukkan tanda-tanda seperti sulit mengambil keputusan, mudah cemas, sering menyalahkan diri sendiri, dan terlalu memikirkan kesalahan di masa lalu.
Media sosial juga dinilai memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya overthinking pada remaja. Kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial sering membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, muncul rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran berlebihan terhadap diri sendiri.
Selain itu, tekanan untuk selalu berhasil dan takut gagal menjadi penyebab utama munculnya overthinking. Banyak pelajar dan mahasiswa merasa harus memenuhi ekspektasi orang tua, sekolah, maupun lingkungan pertemanan. Ketika harapan tersebut terasa berat, pikiran menjadi sulit tenang dan terus dipenuhi rasa takut akan kegagalan.
Meski demikian, overthinking dapat dikurangi dengan beberapa cara sederhana. Salah satunya adalah belajar fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan serta mengurangi kebiasaan memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Menulis perasaan, berbicara dengan orang terpercaya, dan melakukan aktivitas positif juga dapat membantu mengurangi beban pikiran.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami dan mengelola overthinking. Melalui layanan konseling, siswa dapat belajar mengenali sumber kecemasan, mengelola emosi, serta menemukan cara berpikir yang lebih sehat dan realistis.
Dengan meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan mental, diharapkan remaja tidak lagi merasa sendirian ketika mengalami overthinking. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar remaja mampu menghadapi tekanan kehidupan dengan lebih baik dan percaya diri.